Pada postingan kali ini saya akan berbagi cerita
menggenai kisah kecil seorang anak tukang becak
Terimakasih sebelumya pada keluarga ini yang
bersedia kisah hidupnya saya tuangkan dalam blogg ini.. baik langsung saja
mudah-mudahan cerita ini dapat menginspirasi kita semua
Kisah
kecil seorang anak tukang becak part
1
Ditulis oleh : david melka
Perkenalkan saya bernama “abang” (samaran) , ayahanda adalah seorang wiraswasta
yang bekerja siang malam membanting tulang demi mencukupi kebutuhan kami (ibu,
saya dan seorang adik perempuan ), pergi ketika fajar mulai menyingsing dan
pulang larut malam dengan becak sewaan yang selama ini telah menjadi saksi atas
perjuangan dan pahitnya hidup yang kami jalani, saya masih ingat peristiwa itu,
kami selalu menantikan setiap kepulangannya, secercah harapan semoga ayah
pulang dengan membawa uang.
saya
dan adik selalu membantu ayah menyusun, menghitung gumpalan uang ribuan-ribuan yang berhasil
ayah kumpulkan,melihat keceriaan kami ketika membantu, secercah senyum terlihat
diwajah lelahnya seakan-akan rasa lelahnya hilang seketika, uang yang terkumpul
selalu diberikan ke ibu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk
kebutuhan saya dan adik.
Melihat
ketekunan ayah dalam bekerja, seseorang menawarkannya menjadi seorang salesman
pemasaran suatu produk, sedikit demi sedikit perekonomian mulai meningkat, kontrakan kami sudah mulai
terisi dengan perabotan rumah seperti i tv,VCD, dll..
Pada tahun 2000 ayahanda mendapat tawaran dari
temannya untuk menjadi seorang sales suatu perusahaan unilever berkat
kegigihannya dalam bekerja.
Karena ayah bekerja diluar kota kami jadi sangat jarang bertemu , ayah hanya
pulang dihari libur saja,yaitu pada hari sabtu sore dan kembali bekerja pada
hari minggu sore .
Pada tahun 2002 kami diberi karunia seorang
adik laki-laki yang diberi nama “adik laki-laki” (samaran)
Namun suatu ketika , sesuatu yang tidak kami
inginkan terjadi (tahun 2005)
biasanya ayah selalu pulang sekali seminggu,
meskipun hanya sehari saja dirumah tapi cukup untuk mengobati rasa rindu kami,
saya masih ingat dan tidak mungkin terlupakan ketika senja mulai menghampiri di
hari sabtu kami mulai menunggu ayah di pinggir jalan, ketika kami mulai melihat
dari kejauhan kami bergegas berlari menghampiri ayah.
Tidak seperti biasanya ayah tidak pulang
minggu ini, setelah kami menunggu beberapa jam ibu berkata “ mungkin ayah
banyak pekerjaan minggu ini sehingga tidak sempat untuk pulang ”.minggu
berikutnya kami juga menunggu ayah seperti minggu-minggu sebelumya, tapi ayah
juga tidak kunjung pulang, tanpa pesan dan kabar.
Beberapa hari kemudian ibu mendapat kabar
bahwa ayah bermasalah dengan hukum dan dinyatakan sebagai tersangka penggelapan
uang perusahaan. Ketika itu sudah larut malam, Sontak ibu termenung dan
menangis, memikirkan nasib anak-anaknya yang harus dia hidupi seorang diri.
Ayah dilaporkan oleh temannya sendiri karena
laporan keuangan yang dilaporkan ayah ke perusahaan tidak sesuai dengan
semestinya,, padahal beberapa keuangan perusahaan masih banyak terdapat di
lapangan, karna masih ada konsumen yang belum membayarkan ke ayah, tapi mereka
beranggapan ayahlah yang sudah memakan semua uang itu.
Semua isi rumah disita oleh pihak kepolisian
karena dinyatakan sebagai barang bukti, sekarang kami tidak lagi memiliki
apa2,untungnya semua saksi tidak satupun memberatkan ayah, ayah hanya dikenakan sanksi 7 bulan masa
tahanan .
Ketika itu saya masih duduk di kelas 5 SD,
terlahir sebagai anak pertama membuat saya harus mengerti dengan keadaan yang
sedang dialami orang tua saya, saya tidak ingin menambah kesedihan ibu dengan
tingkah laku saya, saya harus menjaga keduaadik saya dengan baik.
Ibu merupakan wanita terhebat yang pernah saya
kenal, ibu tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan , ibu mencoba berjualan
di depan rumah dengan modal pas-pasan, ketika pagi ibu menjual lontong untuk
sarapan dan ketika sore ibu berjualan miso,meskipun hanya menjual miso kami
merasa cukup tanpa kekurangan meskipun sekali2 kami hanya makan dengan nasi
putih dan berlaukkan miso yang dijual ibu.
Ibu tetap berusaha untuk memenuhi kebutuhan
sekolah kami, meskipun sekali-kali kami diberi uang jajan oleh tetangga yang
sangat peduli dengan kami (terima kasih
banyak saya ucapkan)
sekali2
ibu membantu tetangga berjualan dipasar, ibu berangkat kepasar setelah sholat
shubuh, ketika kami masih tertidur nyenyak, dan pulang ketika matahari mulai terbenam, saya dan Dila (adik
perempuan) harus bisa hidup mandiri,bangun pagi, mandi dan harus berangkat ke
sekolah,ketika ibu tidak mempunyai cukup uang untuk memberi kami uang jajan, sekali2 tetanggalah yang memberi kami
uang jajan ,ketika kami hendak berangkat sekolah kami harus menitipkan Diki
ketetangga selama kami pergi sekolah, ketika itu “adik laki-laki” baru berumur
3 tahun.
Saya tidak membayangkan apa jadinya
ketika seorang anak kecil terbangun dari
tidurnya , tidak ada seorangpun di rumah, akan dipastikan dia akan menangis
memanggil ibu,,, ibu. Dan bersyukurlah saya punya adik yang sangat pengertian,
dia tidak menangis ketika sendirian dirumah, dia bisa makan sendiri ketika
lapar, dan sekali-kali tetangga datang melihat kondisi si Adik.
Untunglah ibu berjualan dipasar hanya 2x dalam seminggu hari kamis dan
minggu, jadi tidak terlalu sering
meninggalkan “adik” sendirian dirumah karna pada hari minggu saya dan “adik
perempuan” libur sekolah dan berada dirumah. Gaji ibu berkisar antara 10 sampai 15 ribu saja
meskipun telah bekerja dari pagi hingga sore,kami harus merasa cukup berapapun
nikmat yang diberikan allah saat ini, karena kami hanya memiliki allah tempat
berkeluh kesah,dan tempat kami bersujud dan memohon dalam untaian doa “ semoga
kami tabah menjalani hidup ini” Amiin
Sebenarnya saya sangat tertekan dan terpuruk
dengan keadaan ini,tetapi saya harus terlihat kuat karna saya tidak ingin
menambah kesedihan ibu lagi,
Sesekali kami melihat ayah kerutan ,yang
membuat saya meneteskan air mata adalah ketika hendak meninggalkan rutan
setelah lama bertemu ayah, kira-kira baru sekitar 20 meter, adik bungsu kami
berbalik ke arah belakang berlari mengejar ayah
sambil menangis, sontak saya
berfikir seolaha2 kami tidak akan bertemu ayah lagi, setelah lama
membujuk, dan jam berkunjungpun habis, akhirnya “adik” mau lepas dari pangkuan ayah dan mau dibawa
pulang.
Kesedihan selalu menghampiri tak kala melihat
sosok ibu yang menyembunyikan air matanya dari kami, tetesan air matalah yang
menemani malam kami hingga mata ini terlelap.
Bersambung........(lain kesempatan akan saya
sambung lai teman)
Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah
di atas....?