Kamis, 17 Desember 2015

kisah keluarga tukang becak part 1



Pada postingan kali ini saya akan berbagi cerita menggenai kisah kecil seorang anak tukang becak
Terimakasih sebelumya pada keluarga ini yang bersedia kisah hidupnya saya tuangkan dalam blogg ini.. baik langsung saja mudah-mudahan cerita ini dapat menginspirasi kita semua

Kisah kecil seorang anak tukang becak                                                                                                   part 1
Ditulis oleh : david melka

Perkenalkan saya bernama  “abang” (samaran) , ayahanda  adalah seorang wiraswasta yang bekerja siang malam membanting tulang demi mencukupi kebutuhan kami (ibu, saya dan seorang adik perempuan ), pergi ketika fajar mulai menyingsing dan pulang larut malam dengan becak sewaan yang selama ini telah menjadi saksi atas perjuangan dan pahitnya hidup yang kami jalani, saya masih ingat peristiwa itu, kami selalu menantikan setiap kepulangannya, secercah harapan semoga ayah pulang dengan membawa uang.
 saya dan adik selalu membantu ayah menyusun, menghitung  gumpalan uang ribuan-ribuan yang berhasil ayah kumpulkan,melihat keceriaan kami ketika membantu, secercah senyum terlihat diwajah lelahnya seakan-akan rasa lelahnya hilang seketika, uang yang terkumpul selalu diberikan ke ibu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk kebutuhan saya dan adik.
 Melihat ketekunan ayah dalam bekerja, seseorang menawarkannya menjadi seorang salesman pemasaran suatu produk, sedikit demi sedikit perekonomian  mulai meningkat, kontrakan kami sudah mulai terisi dengan perabotan rumah seperti i tv,VCD, dll..
Pada tahun 2000 ayahanda mendapat tawaran dari temannya untuk menjadi seorang sales suatu perusahaan unilever berkat kegigihannya dalam bekerja.
Karena ayah bekerja diluar kota  kami jadi sangat jarang bertemu , ayah hanya pulang dihari libur saja,yaitu pada hari sabtu sore dan kembali bekerja pada hari minggu sore .
Pada tahun 2002 kami diberi karunia seorang adik laki-laki yang diberi nama “adik laki-laki” (samaran)
Namun suatu ketika , sesuatu yang tidak kami inginkan terjadi  (tahun 2005)
biasanya ayah selalu pulang sekali seminggu, meskipun hanya sehari saja dirumah tapi cukup untuk mengobati rasa rindu kami, saya masih ingat dan tidak mungkin terlupakan ketika senja mulai menghampiri di hari sabtu kami mulai menunggu ayah di pinggir jalan, ketika kami mulai melihat dari kejauhan kami bergegas berlari menghampiri ayah.
Tidak seperti biasanya ayah tidak pulang minggu ini, setelah kami menunggu beberapa jam ibu berkata “ mungkin ayah banyak pekerjaan minggu ini sehingga tidak sempat untuk pulang ”.minggu berikutnya kami juga menunggu ayah seperti minggu-minggu sebelumya, tapi ayah juga tidak kunjung pulang, tanpa pesan dan kabar.
Beberapa hari kemudian ibu mendapat kabar bahwa ayah bermasalah dengan hukum dan dinyatakan sebagai tersangka penggelapan uang perusahaan. Ketika itu sudah larut malam, Sontak ibu termenung dan menangis, memikirkan nasib anak-anaknya yang harus dia hidupi seorang diri.
Ayah dilaporkan oleh temannya sendiri karena laporan keuangan yang dilaporkan ayah ke perusahaan tidak sesuai dengan semestinya,, padahal beberapa keuangan perusahaan masih banyak terdapat di lapangan, karna masih ada konsumen yang belum membayarkan ke ayah, tapi mereka beranggapan ayahlah yang sudah memakan semua uang itu.
Semua isi rumah disita oleh pihak kepolisian karena dinyatakan sebagai barang bukti, sekarang kami tidak lagi memiliki apa2,untungnya semua saksi tidak satupun memberatkan ayah,  ayah hanya dikenakan sanksi 7 bulan masa tahanan .
Ketika itu saya masih duduk di kelas 5 SD, terlahir sebagai anak pertama membuat saya harus mengerti dengan keadaan yang sedang dialami orang tua saya, saya tidak ingin menambah kesedihan ibu dengan tingkah laku saya, saya harus menjaga keduaadik saya dengan baik.
Ibu merupakan wanita terhebat yang pernah saya kenal, ibu tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan , ibu mencoba berjualan di depan rumah dengan modal pas-pasan, ketika pagi ibu menjual lontong untuk sarapan dan ketika sore ibu berjualan miso,meskipun hanya menjual miso kami merasa cukup tanpa kekurangan meskipun sekali2 kami hanya makan dengan nasi putih dan berlaukkan miso yang dijual ibu.
Ibu tetap berusaha untuk memenuhi kebutuhan sekolah kami, meskipun sekali-kali kami diberi uang jajan oleh tetangga yang sangat peduli dengan kami (terima kasih banyak saya ucapkan)
 sekali2 ibu membantu tetangga berjualan dipasar, ibu berangkat kepasar setelah sholat shubuh, ketika kami masih tertidur nyenyak, dan pulang ketika  matahari mulai terbenam, saya dan Dila (adik perempuan) harus bisa hidup mandiri,bangun pagi, mandi dan harus berangkat ke sekolah,ketika ibu tidak mempunyai cukup uang untuk memberi kami uang  jajan, sekali2 tetanggalah yang memberi kami uang jajan ,ketika kami hendak berangkat sekolah kami harus menitipkan Diki ketetangga selama kami pergi sekolah, ketika itu “adik laki-laki” baru berumur 3 tahun.
Saya tidak membayangkan apa jadinya ketika  seorang anak kecil terbangun dari tidurnya , tidak ada seorangpun di rumah, akan dipastikan dia akan menangis memanggil ibu,,, ibu. Dan bersyukurlah saya punya adik yang sangat pengertian, dia tidak menangis ketika sendirian dirumah, dia bisa makan sendiri ketika lapar, dan sekali-kali tetangga datang melihat kondisi si Adik.
Untunglah ibu berjualan dipasar  hanya 2x dalam seminggu hari kamis dan minggu, jadi tidak  terlalu sering meninggalkan “adik” sendirian dirumah karna pada hari minggu saya dan “adik perempuan” libur sekolah dan berada dirumah. Gaji ibu  berkisar antara 10 sampai 15 ribu saja meskipun telah bekerja dari pagi hingga sore,kami harus merasa cukup berapapun nikmat yang diberikan allah saat ini, karena kami hanya memiliki allah tempat berkeluh kesah,dan tempat kami bersujud dan memohon dalam untaian doa “ semoga kami tabah menjalani hidup ini” Amiin
Sebenarnya saya sangat tertekan dan terpuruk dengan keadaan ini,tetapi saya harus terlihat kuat karna saya tidak ingin menambah kesedihan ibu lagi,
Sesekali kami melihat ayah kerutan ,yang membuat saya meneteskan air mata adalah ketika hendak meninggalkan rutan setelah lama bertemu ayah, kira-kira baru sekitar 20 meter, adik bungsu kami berbalik ke arah belakang berlari mengejar ayah  sambil menangis, sontak saya  berfikir seolaha2 kami tidak akan bertemu ayah lagi, setelah lama membujuk, dan jam berkunjungpun habis, akhirnya “adik”  mau lepas dari pangkuan ayah dan mau dibawa pulang.
Kesedihan selalu menghampiri tak kala melihat sosok ibu yang menyembunyikan air matanya dari kami, tetesan air matalah yang menemani malam kami hingga mata ini terlelap.
Bersambung........(lain kesempatan akan saya sambung lai teman)
Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah di atas....?